Search

Content

Showing posts with label lukisan. Show all posts
Showing posts with label lukisan. Show all posts

Introducing The Undagi Polos' Logo. Your Design Must To Get UP!



We are Introducing the UP (undagi polos) logo, UP! UP! Your design must to get UP! J
This is my font, it was designed  by my self, and also the logo, simple with two words, U and P that stand for UNDAGI POLOS,
yeah, the architecture and interior design must to get UP! J



Read more »

BOB MARLEY


Masa-masa SMP mata pelajaran kesenian. disuruh gambar "pahlawan", saya coba gambar "pahlawan" pemusic reggae.  
Read more »

Masa SMA, Mendalami Corak Lukisan Tradisional Ibu Pertiwi (Part III)


Permasalahan itu dapat diatasi,hanya perlu kepekaan dalam menjalaninya.

Menyambung pembicaraan tentang masa SMA , foto diatas adalah juga salah satu dari 4 karya  saya yang dipamerkan  pada showroom marfest (baca postingan sebelumnya :: MASA SMA, MENDALAMI CORAK LUKISAN TRADISIONAL IBU PERTIWI (PART I)
                Ini adalah salah satu lukisan yang saya paling sukai, saya suka ceritanya, kebetulan saya dari kecil sangat suka dengan cerita-cerita kepahlawanan atau kisah pewayangan yang kebanyakan sangat inspiratif, sangat efektif untuk menyebarkan sebuah semangat dan pemikiran kemoralan dengan menerjemahkannya kedalam sebuah epos, bilanglah epos Mahabarata atau Ramayana adalah dua contoh cerita yang sangat inspiratif, sangat jenius, menterjemahkan suatu kitab suci dengan memberi contoh aplikasi nyata  dalam sebuah epos. Weda bukan untuk dihapal atau di’gembar gemborkan’ tapi dimengerti, dan dipraktikan.
                Dalam lukisan ini masih dengan corak yang sama, yaitu Balinese panting style, saya mengangkat dua tokoh utama dalam lukisan ini, Hanoman dan Anggada atau kera putih dan kera merah, seperti judul yang saya berikan pada lukisan ini yaitu “MARUKTI NGADA”, marukti artinya Hanoman, ngada artinya Anggada. Mereka adalah tokoh-tokoh wanara  dalam epos Ramayana, dua kesatria yang sangat setia kepada Sri Rama.
                Lukisan ini terinspirasi dari salah satu pelukis ternama dan kebanggaan pulau dewata yaitu Gusti Nyoman Lempad, maestro lukis tradisional yang sangat terkenal dalam dunia seni lukis.
                Saya ingin menampilkan suatu lukisan yang menampilkan gesture-gestur dinamis objek-objeknya, seakan mereka bergerak, saya juga mengembangkan teknik realis yang saya campur dengan gaya tradisional dengan memperlihatkan “bentuk susunan tubuh” objek dalam lukisan ini, Pembina saya, Bapak Nyoman Wartana, sangat mengapresiasi lukisan ini.
                Kita bisa lihat, jika kita berkerjasama, kita dapat mengatasi masalah yang terasa sangat berat, seperti apa yang tersirat dalam lukisan ini. Hanya perlu kepekaan. Muskoni.
                
Read more »

Masa SMA, Mendalami Corak Lukisan Tradisional Ibu Pertiwi (Part II)


Ilmu seperti dua mata pisau, dapat berguna dan atau juga berbahaya.
Foto diatas adalah juga salah satu dari 4 karya  saya yang dipamerkan  pada showroom marfest (baca postingan sebelumnya :: MASA SMA, MENDALAMI CORAK LUKISAN TRADISIONAL IBU PERTIWI (PART I)
Pada pembuatan Lukisan ini saya terbayang untuk menghadirkan kesan magis, dengan menggambaran tokoh-tokoh pada mitos daerah yang popular, dan pemilihan warna yang bernuansa "MAGIC",  lukisan ini saya beri judul “CARU”.
Di pulau Bali, “Caru”  adalah suatu prosesi untuk menyeimbangkan alam dengan menetralisir kekuatan atau energy negative sehingga antara energy negative dan energy positif terjadi keseimbangan.
Dalam lukisan ini saya gambarkan dua orang tokoh punakawan popular di Bali, sedang menangkap seorang raksasa atau lebih dikenal dengan istilah celuluk. Menceritakan sebuah proses netralisasi energy negative yang menjadi tujuan dari “caru” itu sendiri.
Read more »

Masa SMA, Mendalami Corak Lukisan Tradisional Ibu Pertiwi (Part I)




Masa-masa SMA, penuh cerita, masa yang paling labil, labil sekali, sampai-sampai rasanya saya hanya sebagai penonton otak puber ini mengembara di masa SMA.
Masa SMA, masa dimana saya pertama kalinya  belajar berorganisasi, tak tanggung-tanggung, 2 ekstra saya ketuai, satu seksi bidang OSIS saya pimpin. Pramuka  sebagai organisasi “kreatifitas”, ekstra lukis sebagai “seni”, osis sebagai “managemen”.
 Hasilnya mungkin nihil pada bidang managemen, saya akui bahwa saya mungkin tidak terlalu tertarik  pada bidang ini, bidang kreatif berjalan mulus, tapi yang paling saya gemari adalah bidang seni, lukis, indah sekali rasanya melakukan proses itu.
Dibimbing guru senior seni rupa, Bapak Nyoman Wartana, saya mulai tertarik dengan “cat dan ide “ khas tradisional Pulau Bali. Bliau juga spesialis gambar tradisional. Bliau pernah bilang “pelajari dulu yang dirumah, kalau sudah paham baru pelajari milik tetangga”. Saya setuju sekali dengan pendapat bliau itu.
Suatu saat, ekstra mungil bernuansa seni ini diundang untuk meramaikan PENSI sekolah yang kerap dibilang marfest singkatan dari malini art  festival , di acara marfest ada showroom, isinya berbagai karya anak-anak eksta kurikular sekolah, sebagai satu-satunya ekstra seni rupa di sekolah tujuan para saintis itu, sebagai OSIS dan juga panitia acara tersebut, saya sangat memahami bahwa keberadaan karya kami sangat diharapkan untuk menghiasi dinding showroom. Oleh sebab itu, Tak tanggung-tanggung, saya yang diberi otoritas sebagai ketua oleh Pembina untuk menyusun rencana kegiatan ekstra , saya beri kebijakan untuk membuat minimal 2 karya sebagai tugas akhir semester dan akan dipajang di showroom marfest, Pembina pun setuju.
Kerja demi kerja , akhirnya kami siap dengan karya-karya kami, ternyata karya teman-teman yang akan di pamerkan rata-rata lebih dari tiga karya, saya sebagai ketua dan secara tidak langsung punya beban moral sebagai  panutan, berkomitmen minimal saya juga harus lebih dari dua karya, akhirnya saya selesaikan 3 lukisan, dan 1 gambar “BOB MARLEY” yang saya buat waktu SMP akan saya pamerkan pada Pensi Sekolah.

Gambar diatas adalah salah satu dari 4 karya saya yang dipamerkan, judulnya “THE MAGIC OF BARONG” seperti biasa, style lukisan Bali saya gabungkan dengan metode lukis modern. Banyak apresiasi terhadap lukisan ini. Terima kasih.

Banyak pengunjung showroom yang berkunjung ke showroom dan  hanya ingin melihat lukisan karya anak ekstra lukis, buku tamu juga banyak diisi dengan komentar-komentar pujian terhadap karya anak ekstra lukis, saya senang sekali, Akhirnya sebagai ekstra yang baru bangkit dari hibernasi, ekstra lukis SMAN 1 Gianyar, dapat membuktikan bahwa kualitas lebih penting dari kuantitas, dan juga membuktikan bahwa di DOSMAN (sebutan sekolah saya) terdapat  potensi seni yang dimiliki oleh siswa siswinya yang perlu dikembangkan sebagai upaya nyata menjaga kesenian BALI. Kesenian Bali tak perlu teori penyelamatan, tapi perlu aksi nyata!

Read more »
Powered by Blogger.